Sebuah tarikan harga rendah merupakan fokus promosi maskapai penerbangan Air
Banyak orang bertanya bagai mana pernerbangan tersebut mampu meraih laba yang cukup besar (menurut laporan Deutsche Bank dipekirakan keuntungan bersih pada akhir june 2006 sebesar 127 juta ringit) walaupun dengan menawarkan harga tiket yang cukup murah bahkan sekali waktu menawarkan tiket gratis kepada pelanggan.
Kalau kita cermati, perusahaan tersebut mampu meraih laba dari segi tertentu seperti:
- Meningkatkan efisiensi diberbagai bidang seperti tidak menggunakan tiket bercetak, tidak adanya pengaturan tempat duduk, dan juga menggunakan fasilitas-fasilitas yang sifatnya rendah biaya seperti penggunaan bandara yang rendah biaya dan juga menghimbau para pilot untuk serendah mungkin menggunakan rem sehingga dapat memperpanjang umur rem dan ban pesawat.
- Mendapatkan pendapatan dari hal lainnya seperti jualan di atas pesawat, menciptakan barang-barang khusus untuk diperjual belikan. Selain dari pada itu pendapatan dari kelebihan bagasi (yang dizikan untuk di bawa ke dalam pesawat hanya 15 Kg saja).
- Pengaturan harga tiket yang bervariasi dimana pembagian tempat duduk telah dibagikan berdasarkan harga tertentu sehingga pihak maskapai penerbangan tidak hanya menjual tiket murah akan tetapi juga mampu menjual tiket dengan harga diatas normal
Strategi yang digunakan oleh Air Asia ini merupakan iplementasi dari teori Porter (1985) tentang keunggulan daya saing yaitu keunggulan kepemimpinan biaya, keunggulan perbedaan dan keunggulan fokus. Hal ini senada dengan Barney (2000) yang menyatakan sebuah perusahaan akan memenangkan persaingan apabila melakukan strategi keunggulan daya saing dengan menciptakan sumber-sumber yang baik untuk kenggulan daya saing tersebut, sehingga walaupun perusahaan menerapkan strategi kepemimpinan biaya namun tika akan meninggalkan konsep-konsep kualitas pelayanan. Terutama penerbangan merupakan sebuah perusahaan di bidang jasa transprtasi masal.
Pendapatan dari kelebihan bagasi merupakan pendapatan tambahan yang menjadi salah satu fokus Air Asia. Hal ini bisa kita perhatikan dari upaya masakapai ini dalam membatasi jumlah barang yang boleh dijinjing oleh penumpang. Awalnya pembatasan ini hanya pada jumlah tas yang dibawa dan ukuran tas tersebut dan sekarang ini aturan semakin diperketat dengan memberlakukan satu penumpang hanya boleh membawa tas satu buah dan maksimm berat 7 kg. selebihnya harus dialihkan ke bagasi dan menjadi pendapatan tambahan bagi Air Asia.
Disinilah akar permasalahan sebuah mimpi buruk yang dialami oleh salah seorang penumpang Air Asia, sebuah pengalaman pertama yang tak terlupakan.
Berawal pada tanggal 22 Januari 2008 penulis dengan kawan (yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan) berangkat dari Banda Aceh menuju Kuala Lumpur dengan maskapai penerbangan Air Asia tersebut. Penulis pada waktu itu tiba lebih awal sehingga penulis langsung melakukan check in sedangkan kawan penulis karena datangnya agak terlambat sehingga dianya melakukan check in sendiri. Ketika hendak boarding tiba-tiba petugas Air Asia mendatangi kawan penulis tersebut dan menyatakan bahwa kawan penulis kelebihan bagasi sebesar 10 kg dan harus membayar sebesar Rp. 450.000. Dengan yakin kawan penulis menyatakan tidak mungkin mengalami kelebihan barang, sehinga terjadi diskusi yang panjang dimana penumpang yang lain sedang menaiki pesawat. Setelah itu disepkatin bahwa kelebihan adalah 8 kg dan harus membayar sebesar Rp. 360.000 dan kalau tidak membayar barang akan diturunkan. Karena jumlahnya cukup besar penulis menawarkan barang tersebut untuk dibawa saja keatas pesawat, yang dijawab oleh petugas Air Asia itu tidak mungkin karena akan mengangu jadwal pesawat. Sehingga kami terpaksa membayar harga tersebut.
Setibanya kami di
Permasalahan yang dihadapi oleh kawan penulis tidak sampai disini saja dimana pengalaman waktu berangkat terulang lagi pada waktu pulang.
Ketika kawan penulis hendak memasuki untuk pemeriksaan imigrasi, petugas setempat meminta untuk menimbang tas yang dibawanya. Hasil timbangan menunjukkan bahwa masing masing tas (2 tas) mempunyai berat 7 kg sehingga petugas meminta satu tas harus di masukan ke bagasi pesawat karena katanya aturan masing-masing penumpang hanya bisa membawa 7kg saja ke atas pesawat, (penulis memperhatikan penumpang lainnya dan mendapati bahwa perkiraan penulis masih banyak penumpang yang membawa sejumlah tas melebihi 7kg).
Selanjutnya kawan penulis tersebut membawa tas ke check in counter untuk proses bagasi. Berat timbangan menunjukan angka yang berbeda dengan timbangan manual sebelumnya yaitu seberat 12 kg sehingga kawan penulis tersebut diharuskan membayar RM 180.
Setelah melakukan cek imigrasi, kawan penulis menunjukan bukti pembayaran dengan menyatakan bahwa dia harus membayar RM 180 untuk kelebihan bagasi tersebut. Penulis mengamati dengan seksama angka yang tertera didalam bukti penerimaan tersebut yang menerangkan bahwa kelebihan barang hanya 3 kg dengan jumlah bayarannya hanya RM 45 yang dalam hal ini bertentangan dengan pernyataan kawan penulis tersebut.. Sebuah perbedaan yang sangat besar telah terjadi antara yang dibayarkan dengan jumlah yang tertera pada bukti pembayaran. Pada waktu itu tidak memungkinkan lagi melakukan protes karena sudah melewati batas imigrasi sehingga kawan penulis harus menerima ini sebagai mimpi buruk yang harus dibayar dengan mahal.
Sebuah pelajaran untuk saling mengigatkan bahwa harga yang murah bukanlah sebuah kenikmatan dalam melakukan perjalanan tapi berhati-hatilah dan periksa dengan teliti apa yang anda dapatkan. Timbang tas anda sebelum ditimbang oleh petugas sehingga apa yang menjadi pengalaman kawan penulis tidak akan anda alami.
Penulis: Iskandarsyah Madjid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar